
Tak mampu aku mengungkapnya
Bergeming, lidahku kaku kelu
Walaupun angin berhembus kencang, menawarkan tumpangan
Atau juga burung merpati siap mengantar kabar
Aku tak sanggup untuk berbicara, apalagi bercerita
Saat itu, aku berteman dengan air mata yang mengajak berbicara
juga dengan hati yang terus bercerita
Aku diam, tenggelam dalam kesunyian
Bisikan cahaya menghampiri "Dia-lah tempat kembali segala sesuatu,
Dia teman bicara yang tak hanya mampu menyimak, namun tahu apa yang engkau butuhkan,
sungguh...Dia Maha Mengetahui yang terbaik untukmu, sebelum, saat, dan setelah engkau berbicara juga bercerita. Kembalilah...
Kembali pada fitrahmu...fitrahmu akan mengikuti dan rindu pada-Nya, juga berharap berjumpa dengan-Nya."
Saat kata tak cukup untuk mengungkapnya, kadang air mata yang berbicara atau hati yang bercerita.
(Lemahnya manusia, air mata tanda kelemahan, namun berguna saat sedih menjadi suatu kemestian)